Setetes Embun..
Kadangkala saat kita mendengar sebuah lagu yang sama sekali baru, ada suatu saat dimana lagu tersebut dapat membuai jiwa kita dan membawa kita menikmati lagu tersebut, meski mungkin kita sama sekali belum mengetahui lirik ataupun nada lagu tersebut. Hal itu yang sering saya istilahkan dengan “Lagu yang menggigit”.
Tak peduli apapun aliran musik dari lagu yang kita dengar tersebut, bila lagu tersebut memang cocok dengan jiwa kita, maka otomatis kita seperti ingin bernyanyi bersama dengan si pelantun lagu tersebut. Ambil contoh, saat pertama kali saya mendengar lagu “Seribu Tahun Lamanya” dari JIKUSTIK, saat itu ada suatu gejolak khas yang langsung muncul begitu saja seolah mendorong saya untuk ikut melantunkan lagu tersebut, padahal notabene saya belum pernah mendengarnya sama sekali. Baik bit, aransemen lagu, maupun warna lagunya memang kebetulan cocok dengan jiwa saya. Dan, bukan tidak mungkin hal yang sama juga terjadi pada anda, terutama anda yang mungkin selama ini merasa tidak mengerti musik.
Warna musik apapun yang anda dengarkan, baik pop, jazz, classic, ethnic-contemporer, maupun dangdut sekalipun, memberi kemungkinan yang sama bagi anda untuk dapat menikmati musik. Mungkin itu yang menyebabkan banyak orang menyebut musik sebagai bahasa yang universal.
Jadi, bagi anda yang merasa sangat awam dalam hal mendengarkan musik, cobalah sesekali mendengarkan musik dari jenis musik yang berbeda. Bisa anda coba mulai dari jenis musik yang rumit (seperti classic-jazz ataupun ethnic-contemporer) atau bisa juga anda coba mulai dari jenis musik yang cukup sederhana, seperti pop ataupun dangdut. Atau bahkan anda bisa memulai dari satu hal sederhana, seperti yang dilakukan oleh para siswa sekolah musik di Filipina dan Austria, yang memulai hari mereka setiap hari dengan mendengarkan setetes embun pagi..
