Sitepu all the way

Write what u think..

Membuang Diri

Gile aje, tiba-tiba aja ada suatu obsesi baru yang muncul di dalam kepalaku. Gak tanggung-tanggung, obsesi itu adalah untuk dapat mengunjungi seluruh ibukota propinsi yang ada di seluruh Indonesia ini sebelum umur gw mencapai 30 tahun.

Gimane gak gile, sampe skarang aja total ibukota propinsi yang udah aku kunjungin baru sedikit. Untuk Pulau Sumatera, tinggal Banda Aceh ama Bengkulu sih yang belum. Untuk Pulau Jawa, tinggal Surabaya yang belum. Untuk Kalimantan, masih ada Banjarmasin ama Samarinda yang belum aku sambangin. Untuk Sulawesi, baru Makassar aja yang udah, itupun pas aku masih kecil dulu, berbarengan dengan perjalanan kapal bokap ke Ambon en Jayapura waktu itu. Jadi, berhubung karena waktu itu aku masih kecil, tentu saja sensasi dan kenangannya berbeda. Dan, satu lagi ibukota propinsi yang udah aku kunjungin adalah Denpasar, yang kami kunjungin selama 10 hari bareng anak2 se-geng di kampus, tepat sebulan sebelum wisuda sarjana tahun 2005 lalu.

Tentu saja, untuk mencapai target seperti itu, banyak persiapan yang harus dilakukan. Sebagai langkah pertama, aku udah merencanakan untuk bisa cabut ke Manado pada saat libur Natal tahun 2007 nanti.

Manado.? Yap, Manado adalah target wisataku yang berikutnya. Terkenal dengan wisata bahari-nya yang sangat indah, Pantai Bunaken tentu saja menjadi pilihan utamaku nanti. Seminggu waktu yang aku rencanakan untuk pergi ke sana. Belum lagi dengan adanya kenyataan bahwa Manado terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik dan menggoda, tentu saja semakin menguatkan niatku untuk segera pergi ke sana.

Hhmmm, kira-kira seperti apakah perjalananku nanti ke sana.? Apakah akan bisa sesukses seperti perjalananku ke Palangkaraya tempo hari.? Adrenalin-ku pun langsung meningkat saat membayangkan serunya perjalanan wisata dengan tema “Membuang Diri” ini. Langsung terbayang bagaimana serunya mencari-cari hotel dan kendaraan di sekitar kota Manado, sambil berkeliling mencari pemandangan baru yang tidak pernah kita dapatkan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Medan.

Mari, kita lihat saja apa yang bisa dilakukan oleh anak manusia ini di sana. Tentu saja laporan kunjunganku nanti akan juga disertakan dengan foto2 seperti apa yang sudah kulaporkan mengenai perjalananku ke Palangkaraya tempo hari.

Agustus 13, 2007 Ditulis oleh Hans Victor Sitepu | Journey | | Belum Ada Tanggapan

On leave to Palangkaraya

What a nice city..

18th May 2007 was my first time to go to the city other than in West Borneo. Palangkaraya is the capital city of the Central Borneo. It needs 11 hrs road-way to reach this city from Pangkalan Bun, of course with a road that has a less quality than in Java. Can you imagine, 40% of the road is consist of pebbles and small-rocks. And I needed to follow that kind of road starting from 08 PM in the afternoon, “enjoyed” the night, and arrived in Palangkaraya on 07 AM. What a journey, isn’t it..? And “luckily”, there was no hotel rooms avalaible at that time. You know why.? Because it was exactly the birthday of the Province.

Opening Grand Stage

Yes, it was the 50th birthday of the Central Borneo. And all the city had prepared the 6 days of celebration for that moment, starting on 19th May until 24th May 2007. All the people from around the province had came to visit the city, each of them representing their regency. And that made all of the hotel full-occupied at that time. So, I needed to find the hotel around the city, luckily I can get the best after one hour searching. Oh, what a tired day..

City Main Circle

Yeah, but that journey gave me a precious experience. In the afternoon, when I woke up, I have a new spirit to start a day.  I tried to find a food-bazaar area or some thing like that, and I found that area at the side of the 2nd Main Road around the Main Circle. There were approximately 100 kafe was opened, and of course they were offering a plenty kind of food, weleh-weleh-weleh, what a place..!!

So, after a nite with “a full-occupied” stomach ( ^_^), I was ready to have a long journey next day. I had planned to go to the Main Sport-Field, where the opening ceremony of the City’s birthday celebration would be started on 12.00 AM. Unlucky for me because I need to have a departure from Palangkaraya on 04.00 PM that day.. Well, instead of wasting of my time, I’d just prepared my camera and so on, and directly went to the field in the morning. Surprisingly, all the participants had already come, to get prepared of course, so that I can see many handycraft and goods as well as to take a photo of which. 

Art Exhibition - 2

A lot of beautiful handycraft I’ve never seen before was shown overthere. It made me feel that Dayak-nese have a pretty good taste about the art, especially for wooden-based art. Well, because of a limitation of my bag (I’d just became a backpaker anyway), I postponed to buy something from there.

Art Exhibition

And, finally I must come back to the site. You can guess how hard my journey was. Hehehehehehehe, it’s just exactly the same as how I reached Palangkaraya.

That’s all my journey report to Palangkaraya, guys. I’ll try to show up all my photos have been taken during my journey.

Juli 5, 2007 Ditulis oleh Hans Victor Sitepu | Journey | | & Komentar

In the middle of jungle..

Fiuuhhh…

Lelah sekali sekujur tubuh ini kurasakan begitu aku menginjakkan kaki di Guest House ini. Yah, perjalanan yang panjang selama 2 hari ini dari Jakarta menuju Manismata telah membuatku begitu lelah. Ingin rasanya aku segera berendam dalam bath-tub dengan kucuran air yang hangat nan lembut dari shower di kamar mandinya.

Perjalanan kami dari Jakarta ke tempat ini memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Dimulai dengan menumpang pesawat Batavia Air (salah satu perusahaan penerbangan favoritku yang kebetulan saja ditunjuk oleh perusahaan untuk melayani keberangkatan kami) menuju Pontianak, tiba di sana pada pukul 12 siang. Dari salah satu petugas yang menjemput kami di Bandara Supadio, kami mengetahui bahwa ternyata pesawat yang akan kami tumpangi menuju PangkalanBun, harus di-postponed keberangkatannya sampai besok pagi karena adanya cuaca yang kurang kondusif. Oleh karena itu petugas tersebut (akhirnya kuketahui bernama Pak Supardi) langsung mengantarkan kami menuju Hotel Santika Pontianak untuk beristirahat semalam sambil menunggu keberangkatan pesawat kami esok hari.

Oh iya, aku lupa menceritakan tentang siapa “kami”. Kami terdiri dari aku sendiri dan Bang Aziz beserta istri dan kedua anaknya yang masih kecil.Bang Aziz ini adalah salah satu alumni FEUI juga, angkatan ‘95, yang kebetulan juga akan menempati posisi Senior Manager Accounting. So, we will become the team, Man.

Rupanya keindahan dan keramahan pelayanan Hotel Santika Pontianak mampu membuat kami melupakan sejenak keletihan kami yang sudah terbang selama 2 jam lebih dari Jakarta. Esok paginya, Pk.06.00 WIB kami harus segera berangkat dari Pontianak dengan menumpang pesawat Trigana Air, suatu perusahaan penerbangan swasta lokal,yang banyak melayani penerbangan dari dan ke Kalimantan. Pesawat yang kami tumpangi ternyata berbadan kecil, dengan kapasitas penumpang tidak lebih dari 50 orang. Dapat dibayangkan betapa kecilnya ukuran pesawat itu. Aku sendiri pun sempat ragu, mampukah pesawat ini melawan derasnya angin, apalagi saat itu cuaca pun tidak cukup mendukung dengan adanya gerimis kecil di seputar bandara. Namun,akhirnya kami naiki juga pesawat itu dengan diiringi “jutaan doa” agar perjalanan kami selamat. Hehehehehe, temen aku pernah bilang, bahwa di saat menghadapi situasi menantang maut, sang atheis pun akan otomatis mengenal sang Pencipta. Selama dalam perjalanan pun sebenarnya aku agak was-was juga, apalagi pesawat itu sering mengeluarkan bunyi aneh dari arah sayapnya (yang akhirnya aku tahu bahwa hal itu hanya disebabkan oleh dekatnya jarak antara ujung sayap dengan badan pesawat, sehingga gesekan antara sayap dengan udara dapat terdengar jelas). Wah, nampaknya ada yang gagal masuk jurusan teknik nih, hehehehehe..

Nah,akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan. Oh sebentar,ternyata itu bukan tempat tujuan akhir kami. Rupanya, pesawat kami ini hendak transit dulu di sini, di Ketapang. Pantas saja aku kok merasa bahwa perjalanan kami ini sangat singkat, hanya 1 jam. Ternyata “jadwal menunggu” kami tidak hanya memakan waktu satu-dua jam saja. Pk.10.00 WIB kami baru mulai berangkat lagi menuju PangkalanBun, salah satu kota di Kalimantan Tengah, dan baru tiba di sana setelah 1,5 jam lebih. Tiba di sana, kami harus segera mengambil beberapa titipan di Kantor Perwakilan PangkalanBun, untuk kemudian langsung diantar lagi ke pangkalan Speed.

Pangkalan Speed.? Yah, ternyata rute kami selanjutnya harus melalui Sungai Lamandau. Kota PangkalanBun memang terletak di pinggir Sungai ini, yang muaranya memanjang hingga ke Laut Jawa. Perjalanan dengan speedboat ternyata memakan waktu lebih lama lagi. Apalagi dengan kenyataan bahwa aku hanya sendirian di salah satu speedboat bersama barang-barang bawaan kami semua, sedang Bang Aziz berada di speed yang lain bersama keluarganya. 2,5 jam sudah kami lalui melewati Sungai Lamandau ini hingga akhirnya kami merapat di salah satu galangan perahu penduduk kota, yang akhirnya kuketahui bernama Kotawaringin. Wah, melelahkan juga ya mengikuti rute perjalanan kami yang memakan waktu hampir 9 jam, dan saat itu kami belum tiba di tempat akhir tujuan kami.

Setelah tiba, kami langsung mulai mengisi perut kami yang sudah mulai “karaoke” sejak masih di Ketapang tadi. Dan, ternyata di Kotawaringin inipun kami “diberi” tambahan waktu menunggu hingga 2 jam lebih sebelum kami memulai perjalanan darat yang “lumayan” melelahkan. “Injury time” ini kami dapatkan karena ternyata banyak mobil perusahaan yang dipakai oleh Bos-bos ke luar kota, sehingga tidak ada yang menjemput kami.Luar biasa yah,hehehehehe. Pk.17.30 WITA,akhirnya kami mulai berangkat dengan menggunakan mobil Strada 4WD berwarna hitam metalik.

Sebelumnya kami berpikir bahwa ini adalah akhir dari “penderitaan” kami. Namun, kami keliru. Kenyataannya, jarak yang harus kami tempuh lagi adalah 70 km menuju site-nya, yang artinya akan memakan waktu tambahan 2,5 jam lagi di perjalanan. Lemas kan.? Kalian yang baca aja lemas ngebayanginnya, apalagi kami yang merasakannya, huehehehehehe.. Bu Aziz, sempat bertanya, “Kok pohon semua ya, yang ada di spanjang jalan kita.?” Dengan bijak dan logat Jogjanya yang kental, sopir yang membawa kami menjawab : “We are in the middle of jungle, Mam.!” Wah, luar biasa juga nih sopir ini, pikirku. Selidik punya selidik, rupanya dia menjadi sopir salah satu PC (Plantation Controller) yang berkebangsaan Australia yang kebetulan sedang tidak turun ke PangkalanBun.Pantesan aja jago bahasa Inggrisnya. Dan akhirnya, pada pukul 19.00 WIB, kami tiba di lingkungan perumahan KBK (Kantor Besar Kebun), untuk kemudian diantarkan menuju ke Guest House, tempat aku tinggal sementara sampai 2 bulan berikutnya.

Yah begitulah sekelumit cerita tentang perjalanan kami yang begitu melelahkan, namun juga menakjubkan. Sampai saat ini saja terkadang aku masih berpikir, How so amazed that I can reach this kind of jungle.. Luar biasa yah. Tepat enam bulan sudah aku di sini, di tengah perkebunan (atau lebih tepatnya “hutan”) sawit, banyak yang sudah terjadi dalam hidupku di sini. Suka dan duka banyak aku jalani. Mulai dari pengalamanku belajar bahasa inggris langsung dengan expatriat di sini, sampai pengalamanku berburu batu Kecubung yang indah nan mempesona itu. Aku berjanji akan menceritakannya setelah aku pulang dari cuti bulan Desember nanti.

Namun dari itu semua, satu hal yang tidak pernah berubah, janji Allah tetap YA dan AMIN. Aku tiba-tiba teringat satu ayat yang sering diucapkan oleh salah satu pengkothbah di gereja kami. Roma 8 : 28. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.

Tidak ada satupun rencana Allah yang akan membuat hidup kita sengsara.

Amin.

Agustus 25, 2006 Ditulis oleh Hans Victor Sitepu | Journey | | Belum Ada Tanggapan