Sitepu all the way

Write what u think..

bintang lima

fifth-wimbledon.jpg

Yah, predikat bintang lima memang sangatlah pantas disematkan pada bintang tenis yang satu ini. Kariernya di tenis mulai bersinar pada saat ia menjuarai Turnamen Wimbledon Junior pada tahun 1998, tepat setahun sebelum ia mulai melangkah bergabung dengan para seniornya di ATP (Association of Tennis Professional). Di ATP, turnamen senior pertama yang dimenanginya adalah Turnamen ATP Milan pada tahun 2001.

Kariernya di ATP mulai menanjak sejak ia memenangi turnamen Grand Slam pertamanya di arena Wimbledon pada tahun 2003. Gelar itu adalah semacam “pembuka rahasia” bagi pria kelahiran 8 Agustus 1981 di Binningen, sebuah kota kecil dekat salah satu kota utama di Swiss, Bassel. Sejak itu, 11 gelar turnamen Grand Slam berhasil direngkuhnya, termasuk di arena Wimbledon yang baru saja berakhir kemarin, 8 Juli 2007. 3 gelar Australian Open + 3 gelar US Open + 5 gelar Wimbledon, sudah cukup menggambarkan betapa berbahayanya pemain ini bila sudah mulai mengayunkan raketnya.

Asal tahu saja, tiap tahun ATP menyelenggarakan 4 turnamen Grand Slam yang mewakili 4 jenis lapangan tennis. Turnamen Grand Slam pembuka tahun adalah turnamen Australia Open, yang mewakili lapangan tenis jenis lapangan keras (Hard Court). Kondisi lapangan yang keras seperti ini mengharuskan permainan dilakukan dalam tempo yang cepat. Setelah itu ATP menyelenggarakan turnamen French Open, yang mewakili lapangan tanah liat (Clay Court). Kondisi lapangan jenis ini justru membuat pergerakan bola menjadi lambat, sehingga agak menyulitkan bagi orang-orang yang tidak terbiasa bermain di lapangan jenis ini. Federer, bintang kita kali ini, ternyata termasuk orang yang belum pernah sekalipun memenangi turnamen French Open. Turnamen selanjutnya yang digelar ATP adalah Wimbledon. Turnamen ini berlangsung di atas lapangan berumput (Grass Court). Kebalikannya dengan French Open, di turnamen ini Federer adalah salah satu pemain yang sangat disegani. Gelarnya tahun ini, yang baru saja direngkuh kemarin, merupakan gelarnya yang kelima secara berturut-turut, menjadikannya satu dari dua pemain dalam 100 tahun terakhir yang mampu melakuan hal tersebut setelah legenda tenis dunia, Bjorn Borg (Swedia), yang menggapainya dalam kurun waktu 1976-1980. Turnamen Grand Slam terakhir yang diadakan setiap tahunnya adalah turnamen US Open. Sama halnya seperti Turnamen Australia Open, turnamen ini juga dilangsungkan di atas lapangan keras (Hard Court).

Selanjutnya, mari kita sedikit mengulas pertandingan ketat yang berlangsung tadi malam. Pertandingan yang berlangsung marathon selama 3 jam dan 45 menit, berakhir dengan kemenangan Federer, 7-6 (7), 4-6, 7-6 (3), 2-6, 6-2. Dari total poin yang dikumpulkan kedua pemain (Federer = 26, Nadal = 26), dapat terlihat betapa ketatnya pertandingan tersebut. Pada pertandingan tersebut tercatat Federer membukukan 24 kali aces (servis yang tidak mampu dikembalikan lawan) dibandingkan dengan Nadal yang hanya mampu membukukan 1 kali ace. Namun, di lain sisi, Nadal dengan permainannya yang konstan menyerang dari baseline (Garis horisontal pembatas lapangan), senantiasa merepotkan Federer dengan bola-bola silangnya yang menusuk mendatar ke setiap sudut lapangan, membuat sang petenis no.1 ini terpaksa harus sedikit konsentrasi agar pengembalian bolanya bisa akurat dan tidak menyangkut di net. Terbukti, kemenangan Federer di set pertama dan ketiga harus didapatkan dengan susah payah, melalui tie-break 7-6 dan 7-6. Kemenangan Nadal di set kedua dan keempat pun cukup mudah didapat dari pola menyerang seperti itu. Bahkan di set keempat, Nadal sempat memimpin jauh hingga 4-0, sebelum akhirnya menutup set itu dengan skor 6-2. Namun, bukan Federer namanya kalo tidak mampu bangkit dalam kondisi seperti itu. Pada set penentuan, Federer berhasil memperbaiki penampilannya, dan bahkan mampu membuat repot Nadal, sang Matador dari Spanyol ini, dengan kombinasi pukulan forehand lurus akurat mendekati garis permainan lawan. Pertandingan kali ini memang cukup pantas ditonton untuk melihat sampai sejauh mana Federer mampu menyamai legenda tenis Bjorn Borg memenangi Turnamen Wimbledon selama 5 kali berturut-turut. Pertandingan yang luar biasa.

“Dia adalah seorang ’seniman’ dalam lapangan jenis ini. Dia bisa bertahan di belakang, namun juga bisa menyerang maju hingga mendekati net. Sama sekali tidak ada kelemahannya. Saya percaya, bila dia tetap mempertahankan pola permainan seperti ini, sambil menjaga performanya dari kondisi cedera, dia akan menjadi pemain terbesar yang pernah bermain dalam lapangan seperti ini.”, begitulah komentar Bjorn Borg, sang legenda tenis itu, saat menyaksikan juniornya telah berhasil menyamai rekornya sendiri.

Sekedar informasi, dengan 11 gelar Grand Slam ditangannya, Roger Federer hanya berada di urutan ketiga dari 2 orang lainnya yang menjadi peraih gelar Grand Slam terbanyak sepanjang sejarah. Urutan kedua peraih gelar Grand Slam terbanyak adalah Roy Emerson (Australia), yang memenangi 12 gelar Grand Slam. Sedangkan urutan pertama peraih gelar Grand Slam terbanyak adalah legenda Amerika Serikat, Pete Sampras, yang telah memenangi 14 gelar Grand Slam (termasuk 7 gelar Wimbledon) dalam kurun waktu 12 tahun sejak 1990-2002.

So, akankah Federer berhasil melampaui pencapaian para seniornya tersebut.? Banyak pengamat yang cukup optimis bahwa Federer pasti akan dengan mudah melewati “batas psikologis” 15 gelar Grand Slam. Dengan kenyataan bahwa umur Federer masihlah dibilang cukup muda, yaitu 25 tahun, angka 15 bukanlah sesuatu yang mustahil baginya. Apalagi, dengan adanya motivasi yang sangat kuat dalam dirinya untuk memenangi satu-satunya gelar Grand Slam yang belum pernah direngkuhnya, yaitu gelar French Open.

Kita lihat saja nanti..

Juli 8, 2007 Ditulis oleh Hans Victor Sitepu | Sports | | No Comments Yet