Kebutuhan Kaum Pekerja
Hari jumat mungkin adalah hari yang sangat ditunggu2 di kantor manapun di daerah Jakarta dan sekitarnya. Karena hari itu adalah hari terakhir untuk bekerja dalam minggu yang bersangkutan. Jadi, jelas saja banyak orang yang sudah membuat rencana untuk “berbuat sesuatu” pada malam di hari itu, sekaligus juga untuk rencana untuk 2 hari berikutnya.
Pub, Karaoke, Shopping-Mall, Bilyard Pool, dan Bowling Cage mungkin adalah tempat-tempat yang paling sering dikunjungi orang pada malam hari, terutama oleh para pegawai yang banyak bekerja di kawasan segitiga emas (Kuningan, Gatot Subroto, MH Thamrin). Sederhana, saat ini tempat-tempat itu merupakan sarana hiburan paling mudah dan cepat yang dapat dijangkau para kaum urban di Jakarta, mengingat umumnya mereka memiliki jam kerja nine-to-five yang notabene mengharuskan mereka untuk dapat keluar kantor paling tidak jam lima sore. Namun, keadaan Jakarta, yang makin hari makin semrawut oleh macet, telah membuat pilihan mereka untuk menikmati kehidupan lain di luar kantor menjadi kian terbatas. Mau tidak mau mereka harus mengatur waktu dan tempat agar tidak terjebak di antara dua dunia saja yaitu dunia kerja dan dunia macet. Hehehehehehe.
Maka bermunculanlah tempat-tempat hiburan 24 jam, yang menyediakan segala fasilitas dunia pribadi untuk kepentingan dan kesenangan para kaum urban ini. Mulai dari urusan rambut, telinga, perut, otot, sampe mulut dan lidah coba dipuaskan oleh tempat-tempat ini. Untuk lokasi juga cukup bervariasi, mulai dari yang bertempat di hotel berbintang dan appartment sekelas Da Vinci, menjadi tenant di Shopping-Mall, berupa ruko di jalan-jalan utama, atau bahkan hanya berupa kios kecil pinggir jalan tempat nongkrong seperti yang biasa kita temui di daerah Blok S , Kemang, ataupun Menteng.
Kebetulan saya baru saja kembali dari Jakarta, setelah mengikuti suatu training yang diadakan oleh Kantor Pusat perusahaan tempat saya bekerja. Dari kunjungan selama 4 hari itu di Jakarta, saya mendapat kesimpulan bahwa sebenarnya bentuk kehidupan kaum pekerja di kota besar tidaklah jauh lebih baik daripada kehidupan kaum pekerja di lokasi terpencil seperti saya. Bayangkan saja, hanya demi mencari suatu kegiatan hiburan bagi dirinya sendiri dan keluarga, kaum pekerja di kota besar harus rela menghabiskan malam, dimana di malam yang sama kaum pekerja di lokasi terpencil bahkan sudah beristirahat karena mengalami kelelahan akibat menikmati kegiatan hiburan yang kurang lebih sama di sore harinya. Sempat saya bertanya kepada salah satu teman yang bekerja di sebuah lembaga penelitian di bilangan Tanah Abang dan yang ikut menghabiskan malam bersama saya, apakah hal seperti ini tidak membuatnya stres dan frustasi. Jawaban yang saya dapatkan ternyata cukup mengejutkan. Rupanya teman saya pun sebenarnya merasakan stres yang cukup tinggi, namun dia tidak ada pilihan lain selain menjalaninya sambil terus berusaha berharap agar siklus hidupnya tidak lagi seperti saat ini.
Sungguh ironis bukan. Di tengah kehidupan kota yang cukup lengkap dengan berbagai fasilitasnya, kaum pekerja yang harusnya bisa menikmati kelengkapan fasilitas tersebut justru terpaksa menjalani hidup seperti seorang “tahanan kota” yang menderita bak anak ayam mati di lumbung padi. Lalu, fasilitas-fasilitas seperti apakah yang ada di tempat kerja lokasi terpencil sehingga bisa membuat banyak orang cukup betah bekerja di sana.?
Bidang usaha yang umumnya memiliki lokasi kerja terpencil adalah bidang usaha yang lebih mengutamakan kedekatan dengan lokasi bahan baku daripada kedekatan dengan lokasi distribusi. Bidang usaha seperti ini contohnya adalah bidang usaha yang bergerak di bidang industri pertambangan dan perkebunan. Nah, karena industri seperti ini berlokasi di daerah terpencil, mereka umumnya sudah menyadari bahwa kegiatan perekrutan karyawan merupakan bagian yang sangat krusial. Para kaum pekerja umumnya memiliki stigma bahwa di tempat kerja yang jauh seperti ini, mereka harus mendapatkan sesuatu yang lebih daripada bila mereka hanya bekerja di kota. Alasannya mudah, mereka harus mengorbankan banyak hal seperti keluarga, kedekatan informasi dan fasilitas hiburan yang umum mereka dapatkan di kota-kota besar.
Nah, untuk bisa menarik para kaum pekerja, maka biasanya perusahaan-perusahaan di industri tersebut menyediakan banyak fasilitas di site-nya. Fasilitas yang biasanya disediakan adalah rumah beserta furniturnya, sarana ibadah dan sarana pendidikan (untuk memfasilitasi kebutuhan keluarga). Selain itu untuk kebutuhan di bidang teknologi informasi, perusahaan juga biasanya menyediakan fasilitas internet 24 jam lewat sarana hot-spot. Dan terakhir, untuk kebutuhan hiburan, biasanya perusahaan juga menyediakan fasilitas club house, lengkap dengan swimming pool, tennis court dan atau basket field. Tentu saja, dengan adanya fasilitas-fasilitas seperti itu, segala kebutuhan hiburan yang baru bisa dinikmati seminggu sekali oleh kaum pekerja kota, bisa dinikmati setiap hari sepulang kerja oleh kaum pekerja di lokasi terpencil. Semua itu dihadirkan untuk memberikan kenyamanan tak terkira bagi kaum pekerja, sehingga diharapkan mereka bisa lebih betah dan lebih loyal kepada perusahaan, meminimalisasi biaya rekrutmen, serta pada akhirnya bermuara pada efisiensi dan efektifitas kinerja perusahaan.
Sama seperti salah satu hukum ekonomi yang mengharuskan kita untuk selalu melakukan trade-off dalam melakukan segala kegiatan ekonomi, keputusan para kaum pekerja untuk memilih lokasi kerjanya juga merupakan salah satu bentuk trade-off demi mencapai suatu kondisi dan lingkungan kerja yang optimal bagi dirinya.
Management Trainee = Leader for Future .?
Skedar mau sharing aja, untuk menanggapi pendapat teman-teman di Blog-nya Anjar..
Kbetulan aku juga skarang masih ikut dalam Program MT Finance PT. Cargill Indonesia (www.cargill.com), perusahaan yang bergerak di bidang Food & Agribusiness. Pengalamanku selama menempuh program MT di perusahaan ini cukup menarik.
Seperti Program MT di kebanyakan perusahaan manufacture, Program MT di tempatku juga mostly based on OJT. Jadi, dalam kurun waktu tertentu (mis :3 atow 5 bulan) kita akan diberi suatu assignment khusus, yang nantinya performance kita akan dilihat based on our performance di tiap assignment selama tahun tersebut.
Contoh paling gampang, selama 3 bulan pertama aku dikasih assignment membantu proses Closing & Reporting Procedure on the New Company. Selanjutnya, aku dikasih assignment baru untuk melakukan Reconciliation on Fixed Asset, karena saat ini aku memang ditempatkan di perusahaan yang baru diakuisisi oleh Cargill, jadi pencatatan Fixed Assset-nya masih berantakan. Nah, terakhir ini aku dikasih lagi assignment baru yang cukup menantang, yaitu masuk dalam Reviem Team for Procurement Procedure. Well, jujur aja aku sama skali gak pernah tuh involve dengan yang namanya Procurement Process, so it might be quite challenging for me. But, it’s ok, karena di perusahaan kami, slalu saja ada orang2 yang akan dengan senang hati ngebantu anak2 MT, hehehehehehehe..
Soal training ama carier path, jelas banget bedanya ama temen2 lain yang masuk jalur karier biasa. Kita di Program MT ini mendapat prioritas utama untuk training maupun jenjang karier. Mengapa.? Karena perusahaan sudah membayar biaya yang cukup besar lho selama Program ini berlangsung, mulai dari biaya rekrutment, biaya training, biaya gaji yang lebih tinggi dari staff biasa, dll. So, pasti perusahaan juga gak mau donk mengalami rugi seperti bila kita langsung hengkang setelah program ini selesai. Untuk membuat kita tetap betah, perusahaan juga akan selalu meng-update kita dengan training2 yang baru, selain tentu saja dengan janji akan jenjang karier di masa depan. Selain itu biasanya, seperti di tempatku juga, perusahaan pasti akan memberlakukan semacam ikatan dinas bagi setiap kandidat yang terpilih masuk Program MT.
Bagaimana dengan penempatan kerja. Sebagai perusahaan global, Cargill juga memberi kesempatan selebar-lebarnya bagi setiap karyawannya (termasuk para MT) untuk mengajukan perpindahan lokasi penempatan kerja, tentu saja dengan diskusi mendalam terlebih dahulu dengan pihak perusahaan mengenai peluang kerja di tempat yang lama dan di tempat yang baru. So, dengan skema sperti itu, kita akan merasa dilibatkan dalam proses pencapaian jenjang karier kita, yang tentu saja akhirnya akan bermuara pada hubungan yang harmonis antara employee dan employer. Sebagai informasi, saat ini di Indonesia saja Cargill memiliki unit usaha yang tersebar di 8 lokasi, diantaranya Gunung Putri, Makassar, Amurang, Palembang, dan Manismata tentu saja (tempat aku “bertapa” saat ini, hehehehehehehehehe)
Soal duit, (karena semua hal di dunia ini ujung-ujungnya adalah duit alias UUD, hehehehehehehe) bagi gw sich sudah lebih dari cukup. Udah gitu, sama sperti most of company that is located in the remote area, gaji gw itu masih ditambah pula dengan adanya allowance makan, pembantu, dll. So, it means that gaji gw bersih bo’.
Kesimpulannya, menurut gw Program MT emang sangat bagus diberlakukan oleh setiap perusahaan yang memiliki visi jangka panjang. Karena dengan membangun beberapa kader dari saat ini, perusahaan akan bisa menanamkan budaya perusahaan pada para kader tersebut, sambil terus menumbuhkembangkan loyalitas dan totalitas, sehingga pada akhirnya para kader tersebut akan siap menerima tongkat estafet kepemimpinan dari setiap unsur manajemen yang lama. Contoh terakhir, karyawan di Cargill Worldwide biasanya memiliki masa kerja yang tidak pendek, rata-rata 10 tahun. Tentu saja dibutuhkan loyalitas yang cukup tinggi untuk mencapai masa kerja seperti itu.
Salam.
bintang lima
Yah, predikat bintang lima memang sangatlah pantas disematkan pada bintang tenis yang satu ini. Kariernya di tenis mulai bersinar pada saat ia menjuarai Turnamen Wimbledon Junior pada tahun 1998, tepat setahun sebelum ia mulai melangkah bergabung dengan para seniornya di ATP (Association of Tennis Professional). Di ATP, turnamen senior pertama yang dimenanginya adalah Turnamen ATP Milan pada tahun 2001.
Kariernya di ATP mulai menanjak sejak ia memenangi turnamen Grand Slam pertamanya di arena Wimbledon pada tahun 2003. Gelar itu adalah semacam “pembuka rahasia” bagi pria kelahiran 8 Agustus 1981 di Binningen, sebuah kota kecil dekat salah satu kota utama di Swiss, Bassel. Sejak itu, 11 gelar turnamen Grand Slam berhasil direngkuhnya, termasuk di arena Wimbledon yang baru saja berakhir kemarin, 8 Juli 2007. 3 gelar Australian Open + 3 gelar US Open + 5 gelar Wimbledon, sudah cukup menggambarkan betapa berbahayanya pemain ini bila sudah mulai mengayunkan raketnya.
Asal tahu saja, tiap tahun ATP menyelenggarakan 4 turnamen Grand Slam yang mewakili 4 jenis lapangan tennis. Turnamen Grand Slam pembuka tahun adalah turnamen Australia Open, yang mewakili lapangan tenis jenis lapangan keras (Hard Court). Kondisi lapangan yang keras seperti ini mengharuskan permainan dilakukan dalam tempo yang cepat. Setelah itu ATP menyelenggarakan turnamen French Open, yang mewakili lapangan tanah liat (Clay Court). Kondisi lapangan jenis ini justru membuat pergerakan bola menjadi lambat, sehingga agak menyulitkan bagi orang-orang yang tidak terbiasa bermain di lapangan jenis ini. Federer, bintang kita kali ini, ternyata termasuk orang yang belum pernah sekalipun memenangi turnamen French Open. Turnamen selanjutnya yang digelar ATP adalah Wimbledon. Turnamen ini berlangsung di atas lapangan berumput (Grass Court). Kebalikannya dengan French Open, di turnamen ini Federer adalah salah satu pemain yang sangat disegani. Gelarnya tahun ini, yang baru saja direngkuh kemarin, merupakan gelarnya yang kelima secara berturut-turut, menjadikannya satu dari dua pemain dalam 100 tahun terakhir yang mampu melakuan hal tersebut setelah legenda tenis dunia, Bjorn Borg (Swedia), yang menggapainya dalam kurun waktu 1976-1980. Turnamen Grand Slam terakhir yang diadakan setiap tahunnya adalah turnamen US Open. Sama halnya seperti Turnamen Australia Open, turnamen ini juga dilangsungkan di atas lapangan keras (Hard Court).
Selanjutnya, mari kita sedikit mengulas pertandingan ketat yang berlangsung tadi malam. Pertandingan yang berlangsung marathon selama 3 jam dan 45 menit, berakhir dengan kemenangan Federer, 7-6 (7), 4-6, 7-6 (3), 2-6, 6-2. Dari total poin yang dikumpulkan kedua pemain (Federer = 26, Nadal = 26), dapat terlihat betapa ketatnya pertandingan tersebut. Pada pertandingan tersebut tercatat Federer membukukan 24 kali aces (servis yang tidak mampu dikembalikan lawan) dibandingkan dengan Nadal yang hanya mampu membukukan 1 kali ace. Namun, di lain sisi, Nadal dengan permainannya yang konstan menyerang dari baseline (Garis horisontal pembatas lapangan), senantiasa merepotkan Federer dengan bola-bola silangnya yang menusuk mendatar ke setiap sudut lapangan, membuat sang petenis no.1 ini terpaksa harus sedikit konsentrasi agar pengembalian bolanya bisa akurat dan tidak menyangkut di net. Terbukti, kemenangan Federer di set pertama dan ketiga harus didapatkan dengan susah payah, melalui tie-break 7-6 dan 7-6. Kemenangan Nadal di set kedua dan keempat pun cukup mudah didapat dari pola menyerang seperti itu. Bahkan di set keempat, Nadal sempat memimpin jauh hingga 4-0, sebelum akhirnya menutup set itu dengan skor 6-2. Namun, bukan Federer namanya kalo tidak mampu bangkit dalam kondisi seperti itu. Pada set penentuan, Federer berhasil memperbaiki penampilannya, dan bahkan mampu membuat repot Nadal, sang Matador dari Spanyol ini, dengan kombinasi pukulan forehand lurus akurat mendekati garis permainan lawan. Pertandingan kali ini memang cukup pantas ditonton untuk melihat sampai sejauh mana Federer mampu menyamai legenda tenis Bjorn Borg memenangi Turnamen Wimbledon selama 5 kali berturut-turut. Pertandingan yang luar biasa.
“Dia adalah seorang ’seniman’ dalam lapangan jenis ini. Dia bisa bertahan di belakang, namun juga bisa menyerang maju hingga mendekati net. Sama sekali tidak ada kelemahannya. Saya percaya, bila dia tetap mempertahankan pola permainan seperti ini, sambil menjaga performanya dari kondisi cedera, dia akan menjadi pemain terbesar yang pernah bermain dalam lapangan seperti ini.”, begitulah komentar Bjorn Borg, sang legenda tenis itu, saat menyaksikan juniornya telah berhasil menyamai rekornya sendiri.
Sekedar informasi, dengan 11 gelar Grand Slam ditangannya, Roger Federer hanya berada di urutan ketiga dari 2 orang lainnya yang menjadi peraih gelar Grand Slam terbanyak sepanjang sejarah. Urutan kedua peraih gelar Grand Slam terbanyak adalah Roy Emerson (Australia), yang memenangi 12 gelar Grand Slam. Sedangkan urutan pertama peraih gelar Grand Slam terbanyak adalah legenda Amerika Serikat, Pete Sampras, yang telah memenangi 14 gelar Grand Slam (termasuk 7 gelar Wimbledon) dalam kurun waktu 12 tahun sejak 1990-2002.
So, akankah Federer berhasil melampaui pencapaian para seniornya tersebut.? Banyak pengamat yang cukup optimis bahwa Federer pasti akan dengan mudah melewati “batas psikologis” 15 gelar Grand Slam. Dengan kenyataan bahwa umur Federer masihlah dibilang cukup muda, yaitu 25 tahun, angka 15 bukanlah sesuatu yang mustahil baginya. Apalagi, dengan adanya motivasi yang sangat kuat dalam dirinya untuk memenangi satu-satunya gelar Grand Slam yang belum pernah direngkuhnya, yaitu gelar French Open.
Kita lihat saja nanti..
PRIA vs COWOK
Tidak semua pria dewasa menjadi “PRIA”, ada juga yang masih saja begitu kekanakan meskipun umurnya telah mencapai 40.
Tenang, jangan keburu marah dahulu dengan kenyataan ini. Mungkin memang sebagian orang dilahirkan untuk jadi “PRIA”. namun ada juga yang sudah cukup puas hanya dengan menjadi “COWOK” saja.
Sekali lagi, jangan khawatir dulu. Terima saja diri Anda apa adanya, sebagai PRIA (P) atau sebagai COWOK (C), tokh masing-masing punya nilai lebih dan kurang dari yang lain.
Dan, yang tak kalah penting, percayalah kadang wanita cenderung tidak peduli akan kenyataan ini.
Berikut ini adalah perbedaan mendasar antara seorang PRIA dan seorang COWOK :
P : Tahu jelas lima tahun lagi ia mau jadi apa
C : Tidak jelas lima menit lagi ia mau berbuat apa
P : Jago membuat cewek merasa tenang
C : Jago membuat cewek merasa senang
P : Bacaannya Jhon Grisham, mainannya golf, tontonannya CNN
C : Bacaannya Harry Potter, mainannya bilyar, tontonannya MTV
P : Sebelum umur 30 sudah banyak uang
C : Sebelum umur 30 sudah banyak hutang
P : Seimbang antara penghasilan dan pengeluaran
C : Seimbang antara hutang dan pembayaran minimum
P : Mendukung emansipasi wanita, tapi tetap membayari bon makan wanita
C : Mendukung emansipasi wanita dengan membiarkan wanita bayar sendiri
P : Punya akuntan, penjahit dan dokter langganan
C : Punya salon, kafe dan bengkel langganan
P : Meminta Anda terlibat dalam pembicaraan jika mamanya sedang menelepon
C : Pura-pura Anda tidak bersamanya jika mamanya sedang menelepon
P : Putus dengan pasangannya sambil berjabatan tangan dan mengakui sulitnya menjembatani perbedaan antar mereka berdua, diiringi ucapan , “Kita tetap bisa berteman selamanya.”
C : Putus dengan pasangannya sambil kabur dari rumah, merokok berbatang-batang, plus ucapan, “Jangan undang aku ke pernikahanmu nanti!”
P : Mencintai wanita 10 % pada pertemuan awal dan meningkat terus
C : Mencintai wanita 100 % pada pertemuan awal dan menurun terus
P : Berpikir dewasa seperti orang usia 40 tahun saat berusia 17 tahun
C : Berpikir kekanakan seperti orang usia 17 tahun saat berusia 40 tahun
P : Bisa menang hanya dengan otak dalam konflik
C : Cuma bisa ngamuk, adu mulut, n adu otot kalo konflik
P : Mikirnya “Aku masih kurang pengetahuan, harus belajar lebh banyak”
C : Mikirnya “Aku yang terhebat di muka bumi, siapapun aku hadapin!!!”
P : Otak no 1, digabungin otot kalo terpaksa
C : Otot no 1, ditambah otak kalo punya
Jadi, yang manakah diri anda.?
On leave to Palangkaraya
What a nice city..
18th May 2007 was my first time to go to the city other than in West Borneo. Palangkaraya is the capital city of the Central Borneo. It needs 11 hrs road-way to reach this city from Pangkalan Bun, of course with a road that has a less quality than in Java. Can you imagine, 40% of the road is consist of pebbles and small-rocks. And I needed to follow that kind of road starting from 08 PM in the afternoon, “enjoyed” the night, and arrived in Palangkaraya on 07 AM. What a journey, isn’t it..? And “luckily”, there was no hotel rooms avalaible at that time. You know why.? Because it was exactly the birthday of the Province.
Yes, it was the 50th birthday of the Central Borneo. And all the city had prepared the 6 days of celebration for that moment, starting on 19th May until 24th May 2007. All the people from around the province had came to visit the city, each of them representing their regency. And that made all of the hotel full-occupied at that time. So, I needed to find the hotel around the city, luckily I can get the best after one hour searching. Oh, what a tired day..
Yeah, but that journey gave me a precious experience. In the afternoon, when I woke up, I have a new spirit to start a day. I tried to find a food-bazaar area or some thing like that, and I found that area at the side of the 2nd Main Road around the Main Circle. There were approximately 100 kafe was opened, and of course they were offering a plenty kind of food, weleh-weleh-weleh, what a place..!!
So, after a nite with “a full-occupied” stomach ( ^_^), I was ready to have a long journey next day. I had planned to go to the Main Sport-Field, where the opening ceremony of the City’s birthday celebration would be started on 12.00 AM. Unlucky for me because I need to have a departure from Palangkaraya on 04.00 PM that day.. Well, instead of wasting of my time, I’d just prepared my camera and so on, and directly went to the field in the morning. Surprisingly, all the participants had already come, to get prepared of course, so that I can see many handycraft and goods as well as to take a photo of which.
A lot of beautiful handycraft I’ve never seen before was shown overthere. It made me feel that Dayak-nese have a pretty good taste about the art, especially for wooden-based art. Well, because of a limitation of my bag (I’d just became a backpaker anyway), I postponed to buy something from there.
And, finally I must come back to the site. You can guess how hard my journey was. Hehehehehehehe, it’s just exactly the same as how I reached Palangkaraya.
That’s all my journey report to Palangkaraya, guys. I’ll try to show up all my photos have been taken during my journey.
