In the middle of jungle..
Fiuuhhh…
Lelah sekali sekujur tubuh ini kurasakan begitu aku menginjakkan kaki di Guest House ini. Yah, perjalanan yang panjang selama 2 hari ini dari Jakarta menuju Manismata telah membuatku begitu lelah. Ingin rasanya aku segera berendam dalam bath-tub dengan kucuran air yang hangat nan lembut dari shower di kamar mandinya.
Perjalanan kami dari Jakarta ke tempat ini memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Dimulai dengan menumpang pesawat Batavia Air (salah satu perusahaan penerbangan favoritku yang kebetulan saja ditunjuk oleh perusahaan untuk melayani keberangkatan kami) menuju Pontianak, tiba di sana pada pukul 12 siang. Dari salah satu petugas yang menjemput kami di Bandara Supadio, kami mengetahui bahwa ternyata pesawat yang akan kami tumpangi menuju PangkalanBun, harus di-postponed keberangkatannya sampai besok pagi karena adanya cuaca yang kurang kondusif. Oleh karena itu petugas tersebut (akhirnya kuketahui bernama Pak Supardi) langsung mengantarkan kami menuju Hotel Santika Pontianak untuk beristirahat semalam sambil menunggu keberangkatan pesawat kami esok hari.
Oh iya, aku lupa menceritakan tentang siapa “kami”. Kami terdiri dari aku sendiri dan Bang Aziz beserta istri dan kedua anaknya yang masih kecil.Bang Aziz ini adalah salah satu alumni FEUI juga, angkatan ‘95, yang kebetulan juga akan menempati posisi Senior Manager Accounting. So, we will become the team, Man.
Rupanya keindahan dan keramahan pelayanan Hotel Santika Pontianak mampu membuat kami melupakan sejenak keletihan kami yang sudah terbang selama 2 jam lebih dari Jakarta. Esok paginya, Pk.06.00 WIB kami harus segera berangkat dari Pontianak dengan menumpang pesawat Trigana Air, suatu perusahaan penerbangan swasta lokal,yang banyak melayani penerbangan dari dan ke Kalimantan. Pesawat yang kami tumpangi ternyata berbadan kecil, dengan kapasitas penumpang tidak lebih dari 50 orang. Dapat dibayangkan betapa kecilnya ukuran pesawat itu. Aku sendiri pun sempat ragu, mampukah pesawat ini melawan derasnya angin, apalagi saat itu cuaca pun tidak cukup mendukung dengan adanya gerimis kecil di seputar bandara. Namun,akhirnya kami naiki juga pesawat itu dengan diiringi “jutaan doa” agar perjalanan kami selamat. Hehehehehe, temen aku pernah bilang, bahwa di saat menghadapi situasi menantang maut, sang atheis pun akan otomatis mengenal sang Pencipta. Selama dalam perjalanan pun sebenarnya aku agak was-was juga, apalagi pesawat itu sering mengeluarkan bunyi aneh dari arah sayapnya (yang akhirnya aku tahu bahwa hal itu hanya disebabkan oleh dekatnya jarak antara ujung sayap dengan badan pesawat, sehingga gesekan antara sayap dengan udara dapat terdengar jelas). Wah, nampaknya ada yang gagal masuk jurusan teknik nih, hehehehehe..
Nah,akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan. Oh sebentar,ternyata itu bukan tempat tujuan akhir kami. Rupanya, pesawat kami ini hendak transit dulu di sini, di Ketapang. Pantas saja aku kok merasa bahwa perjalanan kami ini sangat singkat, hanya 1 jam. Ternyata “jadwal menunggu” kami tidak hanya memakan waktu satu-dua jam saja. Pk.10.00 WIB kami baru mulai berangkat lagi menuju PangkalanBun, salah satu kota di Kalimantan Tengah, dan baru tiba di sana setelah 1,5 jam lebih. Tiba di sana, kami harus segera mengambil beberapa titipan di Kantor Perwakilan PangkalanBun, untuk kemudian langsung diantar lagi ke pangkalan Speed.
Pangkalan Speed.? Yah, ternyata rute kami selanjutnya harus melalui Sungai Lamandau. Kota PangkalanBun memang terletak di pinggir Sungai ini, yang muaranya memanjang hingga ke Laut Jawa. Perjalanan dengan speedboat ternyata memakan waktu lebih lama lagi. Apalagi dengan kenyataan bahwa aku hanya sendirian di salah satu speedboat bersama barang-barang bawaan kami semua, sedang Bang Aziz berada di speed yang lain bersama keluarganya. 2,5 jam sudah kami lalui melewati Sungai Lamandau ini hingga akhirnya kami merapat di salah satu galangan perahu penduduk kota, yang akhirnya kuketahui bernama Kotawaringin. Wah, melelahkan juga ya mengikuti rute perjalanan kami yang memakan waktu hampir 9 jam, dan saat itu kami belum tiba di tempat akhir tujuan kami.
Setelah tiba, kami langsung mulai mengisi perut kami yang sudah mulai “karaoke” sejak masih di Ketapang tadi. Dan, ternyata di Kotawaringin inipun kami “diberi” tambahan waktu menunggu hingga 2 jam lebih sebelum kami memulai perjalanan darat yang “lumayan” melelahkan. “Injury time” ini kami dapatkan karena ternyata banyak mobil perusahaan yang dipakai oleh Bos-bos ke luar kota, sehingga tidak ada yang menjemput kami.Luar biasa yah,hehehehehe. Pk.17.30 WITA,akhirnya kami mulai berangkat dengan menggunakan mobil Strada 4WD berwarna hitam metalik.
Sebelumnya kami berpikir bahwa ini adalah akhir dari “penderitaan” kami. Namun, kami keliru. Kenyataannya, jarak yang harus kami tempuh lagi adalah 70 km menuju site-nya, yang artinya akan memakan waktu tambahan 2,5 jam lagi di perjalanan. Lemas kan.? Kalian yang baca aja lemas ngebayanginnya, apalagi kami yang merasakannya, huehehehehehe.. Bu Aziz, sempat bertanya, “Kok pohon semua ya, yang ada di spanjang jalan kita.?” Dengan bijak dan logat Jogjanya yang kental, sopir yang membawa kami menjawab : “We are in the middle of jungle, Mam.!” Wah, luar biasa juga nih sopir ini, pikirku. Selidik punya selidik, rupanya dia menjadi sopir salah satu PC (Plantation Controller) yang berkebangsaan Australia yang kebetulan sedang tidak turun ke PangkalanBun.Pantesan aja jago bahasa Inggrisnya. Dan akhirnya, pada pukul 19.00 WIB, kami tiba di lingkungan perumahan KBK (Kantor Besar Kebun), untuk kemudian diantarkan menuju ke Guest House, tempat aku tinggal sementara sampai 2 bulan berikutnya.
Yah begitulah sekelumit cerita tentang perjalanan kami yang begitu melelahkan, namun juga menakjubkan. Sampai saat ini saja terkadang aku masih berpikir, How so amazed that I can reach this kind of jungle.. Luar biasa yah. Tepat enam bulan sudah aku di sini, di tengah perkebunan (atau lebih tepatnya “hutan”) sawit, banyak yang sudah terjadi dalam hidupku di sini. Suka dan duka banyak aku jalani. Mulai dari pengalamanku belajar bahasa inggris langsung dengan expatriat di sini, sampai pengalamanku berburu batu Kecubung yang indah nan mempesona itu. Aku berjanji akan menceritakannya setelah aku pulang dari cuti bulan Desember nanti.
Namun dari itu semua, satu hal yang tidak pernah berubah, janji Allah tetap YA dan AMIN. Aku tiba-tiba teringat satu ayat yang sering diucapkan oleh salah satu pengkothbah di gereja kami. Roma 8 : 28. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.
Tidak ada satupun rencana Allah yang akan membuat hidup kita sengsara.
Amin.
