Sitepu all the way

Write what u think..

Setetes Embun..

Kadangkala saat kita mendengar sebuah lagu yang sama sekali baru, ada suatu saat dimana lagu tersebut dapat membuai jiwa kita dan membawa kita menikmati lagu tersebut, meski mungkin kita sama sekali belum mengetahui lirik ataupun nada lagu tersebut. Hal itu yang sering saya istilahkan dengan “Lagu yang menggigit”.

Tak peduli apapun aliran musik dari lagu yang kita dengar tersebut, bila lagu tersebut memang cocok dengan jiwa kita, maka otomatis kita seperti ingin bernyanyi bersama dengan si pelantun lagu tersebut. Ambil contoh, saat pertama kali saya mendengar lagu “Seribu Tahun Lamanya” dari JIKUSTIK, saat itu ada suatu gejolak khas yang langsung muncul begitu saja seolah mendorong saya untuk ikut melantunkan lagu tersebut, padahal notabene saya belum pernah mendengarnya sama sekali. Baik bit, aransemen lagu, maupun warna lagunya memang kebetulan cocok dengan jiwa saya. Dan, bukan tidak mungkin hal yang sama juga terjadi pada anda, terutama anda yang mungkin selama ini merasa tidak mengerti musik.

Warna musik apapun yang anda dengarkan, baik pop, jazz, classic, ethnic-contemporer, maupun dangdut sekalipun, memberi kemungkinan yang sama bagi anda untuk dapat menikmati musik. Mungkin itu yang menyebabkan banyak orang menyebut musik sebagai bahasa yang universal.

Jadi, bagi anda yang merasa sangat awam dalam hal mendengarkan musik, cobalah sesekali mendengarkan musik dari jenis musik yang berbeda. Bisa anda coba mulai dari jenis musik yang rumit (seperti classic-jazz ataupun ethnic-contemporer) atau bisa juga anda coba mulai dari jenis musik yang cukup sederhana, seperti pop ataupun dangdut. Atau bahkan anda bisa memulai dari satu hal sederhana, seperti yang dilakukan oleh para siswa sekolah musik di Filipina dan Austria, yang memulai hari mereka setiap hari dengan mendengarkan setetes embun pagi..

Agustus 30, 2007 Ditulis oleh Hans Victor Sitepu | Music | | No Comments Yet

Membuang Diri

Gile aje, tiba-tiba aja ada suatu obsesi baru yang muncul di dalam kepalaku. Gak tanggung-tanggung, obsesi itu adalah untuk dapat mengunjungi seluruh ibukota propinsi yang ada di seluruh Indonesia ini sebelum umur gw mencapai 30 tahun.

Gimane gak gile, sampe skarang aja total ibukota propinsi yang udah aku kunjungin baru sedikit. Untuk Pulau Sumatera, tinggal Banda Aceh ama Bengkulu sih yang belum. Untuk Pulau Jawa, tinggal Surabaya yang belum. Untuk Kalimantan, masih ada Banjarmasin ama Samarinda yang belum aku sambangin. Untuk Sulawesi, baru Makassar aja yang udah, itupun pas aku masih kecil dulu, berbarengan dengan perjalanan kapal bokap ke Ambon en Jayapura waktu itu. Jadi, berhubung karena waktu itu aku masih kecil, tentu saja sensasi dan kenangannya berbeda. Dan, satu lagi ibukota propinsi yang udah aku kunjungin adalah Denpasar, yang kami kunjungin selama 10 hari bareng anak2 se-geng di kampus, tepat sebulan sebelum wisuda sarjana tahun 2005 lalu.

Tentu saja, untuk mencapai target seperti itu, banyak persiapan yang harus dilakukan. Sebagai langkah pertama, aku udah merencanakan untuk bisa cabut ke Manado pada saat libur Natal tahun 2007 nanti.

Manado.? Yap, Manado adalah target wisataku yang berikutnya. Terkenal dengan wisata bahari-nya yang sangat indah, Pantai Bunaken tentu saja menjadi pilihan utamaku nanti. Seminggu waktu yang aku rencanakan untuk pergi ke sana. Belum lagi dengan adanya kenyataan bahwa Manado terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik dan menggoda, tentu saja semakin menguatkan niatku untuk segera pergi ke sana.

Hhmmm, kira-kira seperti apakah perjalananku nanti ke sana.? Apakah akan bisa sesukses seperti perjalananku ke Palangkaraya tempo hari.? Adrenalin-ku pun langsung meningkat saat membayangkan serunya perjalanan wisata dengan tema “Membuang Diri” ini. Langsung terbayang bagaimana serunya mencari-cari hotel dan kendaraan di sekitar kota Manado, sambil berkeliling mencari pemandangan baru yang tidak pernah kita dapatkan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Medan.

Mari, kita lihat saja apa yang bisa dilakukan oleh anak manusia ini di sana. Tentu saja laporan kunjunganku nanti akan juga disertakan dengan foto2 seperti apa yang sudah kulaporkan mengenai perjalananku ke Palangkaraya tempo hari.

Agustus 13, 2007 Ditulis oleh Hans Victor Sitepu | Journey | | No Comments Yet

Kebutuhan Kaum Pekerja

Hari jumat mungkin adalah hari yang sangat ditunggu2 di kantor manapun di daerah Jakarta dan sekitarnya. Karena hari itu adalah hari terakhir untuk bekerja dalam minggu yang bersangkutan. Jadi, jelas saja banyak orang yang sudah membuat rencana untuk “berbuat sesuatu” pada malam di hari itu, sekaligus juga untuk rencana untuk 2 hari berikutnya.

Pub, Karaoke, Shopping-Mall, Bilyard Pool, dan Bowling Cage mungkin adalah tempat-tempat yang paling sering dikunjungi orang pada malam hari, terutama oleh para pegawai yang banyak bekerja di kawasan segitiga emas (Kuningan, Gatot Subroto, MH Thamrin). Sederhana, saat ini tempat-tempat itu merupakan sarana hiburan paling mudah dan cepat yang dapat dijangkau para kaum urban di Jakarta, mengingat umumnya mereka memiliki jam kerja nine-to-five yang notabene mengharuskan mereka untuk dapat keluar kantor paling tidak jam lima sore. Namun, keadaan Jakarta, yang makin hari makin semrawut oleh macet, telah membuat pilihan mereka untuk menikmati kehidupan lain di luar kantor menjadi kian terbatas. Mau tidak mau mereka harus mengatur waktu dan tempat agar tidak terjebak di antara dua dunia saja yaitu dunia kerja dan dunia macet. Hehehehehehe.

Maka bermunculanlah tempat-tempat hiburan 24 jam, yang menyediakan segala fasilitas dunia pribadi untuk kepentingan dan kesenangan para kaum urban ini. Mulai dari urusan rambut, telinga, perut, otot, sampe mulut dan lidah coba dipuaskan oleh tempat-tempat ini. Untuk lokasi juga cukup bervariasi, mulai dari yang bertempat di hotel berbintang dan appartment sekelas Da Vinci, menjadi tenant di Shopping-Mall, berupa ruko di jalan-jalan utama, atau bahkan hanya berupa kios kecil pinggir jalan tempat nongkrong seperti yang biasa kita temui di daerah Blok S , Kemang, ataupun Menteng.

Kebetulan saya baru saja kembali dari Jakarta, setelah mengikuti suatu training yang diadakan oleh Kantor Pusat perusahaan tempat saya bekerja. Dari kunjungan selama 4 hari itu di  Jakarta, saya mendapat kesimpulan bahwa sebenarnya bentuk kehidupan kaum pekerja di kota besar tidaklah jauh lebih baik daripada kehidupan kaum pekerja di lokasi terpencil seperti saya. Bayangkan saja, hanya demi mencari suatu kegiatan hiburan bagi dirinya sendiri dan keluarga, kaum pekerja di kota besar harus rela menghabiskan malam, dimana di malam yang sama kaum pekerja di lokasi terpencil bahkan sudah beristirahat karena mengalami kelelahan akibat menikmati kegiatan hiburan yang kurang lebih sama di sore harinya. Sempat saya bertanya kepada salah satu teman yang bekerja di sebuah lembaga penelitian di bilangan Tanah Abang dan yang ikut menghabiskan malam bersama saya, apakah hal seperti ini tidak membuatnya stres dan frustasi. Jawaban yang saya dapatkan ternyata cukup mengejutkan. Rupanya teman saya pun sebenarnya merasakan stres yang cukup tinggi, namun dia tidak ada pilihan lain selain menjalaninya sambil terus berusaha berharap agar siklus hidupnya tidak lagi seperti saat ini.

Sungguh ironis bukan. Di tengah kehidupan kota yang cukup lengkap dengan berbagai fasilitasnya, kaum pekerja yang harusnya bisa menikmati kelengkapan fasilitas tersebut justru terpaksa menjalani hidup seperti seorang “tahanan kota” yang menderita bak anak ayam mati di lumbung padi. Lalu, fasilitas-fasilitas seperti apakah yang ada di tempat kerja lokasi terpencil sehingga bisa membuat banyak orang cukup betah bekerja di sana.?

Bidang usaha yang umumnya memiliki lokasi kerja terpencil adalah bidang usaha yang lebih mengutamakan kedekatan dengan lokasi bahan baku daripada kedekatan dengan lokasi distribusi. Bidang usaha seperti ini contohnya adalah bidang usaha yang bergerak di bidang industri pertambangan dan perkebunan. Nah, karena industri seperti ini berlokasi di daerah terpencil, mereka umumnya sudah menyadari bahwa kegiatan perekrutan karyawan merupakan bagian yang sangat krusial. Para kaum pekerja umumnya memiliki stigma bahwa di tempat kerja yang jauh seperti ini, mereka harus mendapatkan sesuatu yang lebih daripada bila mereka hanya bekerja di kota. Alasannya mudah, mereka harus mengorbankan banyak hal seperti keluarga, kedekatan informasi dan fasilitas hiburan yang umum mereka dapatkan di kota-kota besar.

Nah, untuk bisa menarik para kaum pekerja, maka biasanya perusahaan-perusahaan di industri tersebut menyediakan banyak fasilitas di site-nya. Fasilitas yang biasanya disediakan adalah rumah beserta furniturnya, sarana ibadah dan sarana pendidikan (untuk memfasilitasi kebutuhan keluarga). Selain itu untuk kebutuhan di bidang teknologi informasi, perusahaan juga biasanya menyediakan fasilitas internet 24 jam lewat sarana hot-spot.  Dan terakhir, untuk kebutuhan hiburan, biasanya perusahaan juga menyediakan fasilitas club house, lengkap dengan swimming pool, tennis court dan atau basket field. Tentu saja, dengan adanya fasilitas-fasilitas seperti itu, segala kebutuhan hiburan yang baru bisa dinikmati seminggu sekali oleh kaum pekerja kota, bisa dinikmati setiap hari sepulang kerja oleh kaum pekerja di lokasi terpencil. Semua itu dihadirkan untuk memberikan kenyamanan tak terkira bagi kaum pekerja, sehingga diharapkan mereka bisa lebih betah dan lebih loyal kepada perusahaan, meminimalisasi biaya rekrutmen, serta pada akhirnya bermuara pada efisiensi dan efektifitas kinerja perusahaan.

Sama seperti salah satu hukum ekonomi yang mengharuskan kita untuk selalu melakukan trade-off dalam melakukan segala kegiatan ekonomi, keputusan para kaum pekerja untuk memilih lokasi kerjanya juga merupakan salah satu bentuk trade-off demi mencapai suatu kondisi dan lingkungan kerja yang optimal bagi dirinya.

Juli 31, 2007 Ditulis oleh Hans Victor Sitepu | Free Style | | No Comments Yet

Management Trainee = Leader for Future .?

Skedar mau sharing aja, untuk menanggapi pendapat teman-teman di Blog-nya Anjar..

Kbetulan aku juga skarang masih ikut dalam Program MT Finance PT. Cargill Indonesia (www.cargill.com), perusahaan yang bergerak di bidang Food & Agribusiness. Pengalamanku selama menempuh program MT di perusahaan ini cukup menarik.

Seperti Program MT di kebanyakan perusahaan manufacture, Program MT di tempatku juga mostly based on OJT. Jadi, dalam kurun waktu tertentu (mis :3 atow 5 bulan) kita akan diberi suatu assignment khusus, yang nantinya performance kita akan dilihat based on our performance di tiap assignment selama tahun tersebut.

Contoh paling gampang, selama 3 bulan pertama aku dikasih assignment membantu proses Closing & Reporting Procedure on the New Company. Selanjutnya, aku dikasih assignment baru untuk melakukan Reconciliation on Fixed Asset, karena saat ini aku memang ditempatkan di perusahaan yang baru diakuisisi oleh Cargill, jadi pencatatan Fixed Assset-nya masih berantakan. Nah, terakhir ini aku dikasih lagi assignment baru yang cukup menantang, yaitu masuk dalam Reviem Team for Procurement Procedure. Well, jujur aja aku sama skali gak pernah tuh involve dengan yang namanya Procurement Process, so it might be quite challenging for me. But, it’s ok, karena di perusahaan kami, slalu saja ada orang2 yang akan dengan senang hati ngebantu anak2 MT, hehehehehehehe..

Soal training ama carier path, jelas banget bedanya ama temen2 lain yang masuk jalur karier biasa. Kita di Program MT ini mendapat prioritas utama untuk training maupun jenjang karier. Mengapa.? Karena perusahaan sudah membayar biaya yang cukup besar lho selama Program ini berlangsung, mulai dari biaya rekrutment, biaya training, biaya gaji yang lebih tinggi dari staff biasa, dll. So, pasti perusahaan juga gak mau donk mengalami rugi seperti bila kita langsung hengkang setelah program ini selesai. Untuk membuat kita tetap betah, perusahaan juga akan selalu meng-update kita dengan training2 yang baru, selain tentu saja dengan janji akan jenjang karier di masa depan. Selain itu biasanya, seperti di tempatku juga, perusahaan pasti akan memberlakukan semacam ikatan dinas bagi setiap kandidat yang terpilih masuk Program MT.

Bagaimana dengan penempatan kerja. Sebagai perusahaan global, Cargill juga memberi kesempatan selebar-lebarnya bagi setiap karyawannya (termasuk para MT) untuk mengajukan perpindahan lokasi penempatan kerja, tentu saja dengan diskusi mendalam terlebih dahulu dengan pihak perusahaan mengenai peluang kerja di tempat yang lama dan di tempat yang baru. So, dengan skema sperti itu, kita akan merasa dilibatkan dalam proses pencapaian jenjang karier kita, yang tentu saja akhirnya akan bermuara pada hubungan yang harmonis antara employee dan employer. Sebagai informasi, saat ini di Indonesia saja Cargill memiliki unit usaha yang tersebar di 8 lokasi, diantaranya Gunung Putri, Makassar, Amurang, Palembang, dan Manismata tentu saja (tempat aku “bertapa” saat ini, hehehehehehehehehe)

Soal duit, (karena semua hal di dunia ini ujung-ujungnya adalah duit alias UUD, hehehehehehehe) bagi gw sich sudah lebih dari cukup. Udah gitu, sama sperti most of company that is located in the remote area, gaji gw itu masih ditambah pula dengan adanya allowance makan, pembantu, dll. So, it means that gaji gw bersih bo’.

Kesimpulannya, menurut gw Program MT emang sangat bagus diberlakukan oleh setiap perusahaan yang memiliki visi jangka panjang. Karena dengan membangun beberapa kader dari saat ini, perusahaan akan bisa menanamkan budaya perusahaan pada para kader tersebut, sambil terus menumbuhkembangkan loyalitas dan totalitas, sehingga pada akhirnya para kader tersebut akan siap menerima tongkat estafet kepemimpinan dari setiap unsur manajemen yang lama. Contoh terakhir, karyawan di Cargill Worldwide biasanya memiliki masa kerja yang tidak pendek, rata-rata 10 tahun. Tentu saja dibutuhkan loyalitas yang cukup tinggi untuk mencapai masa kerja seperti itu.

Salam.

Juli 11, 2007 Ditulis oleh Hans Victor Sitepu | Free Style | | 4 Komentar

bintang lima

fifth-wimbledon.jpg

Yah, predikat bintang lima memang sangatlah pantas disematkan pada bintang tenis yang satu ini. Kariernya di tenis mulai bersinar pada saat ia menjuarai Turnamen Wimbledon Junior pada tahun 1998, tepat setahun sebelum ia mulai melangkah bergabung dengan para seniornya di ATP (Association of Tennis Professional). Di ATP, turnamen senior pertama yang dimenanginya adalah Turnamen ATP Milan pada tahun 2001.

Kariernya di ATP mulai menanjak sejak ia memenangi turnamen Grand Slam pertamanya di arena Wimbledon pada tahun 2003. Gelar itu adalah semacam “pembuka rahasia” bagi pria kelahiran 8 Agustus 1981 di Binningen, sebuah kota kecil dekat salah satu kota utama di Swiss, Bassel. Sejak itu, 11 gelar turnamen Grand Slam berhasil direngkuhnya, termasuk di arena Wimbledon yang baru saja berakhir kemarin, 8 Juli 2007. 3 gelar Australian Open + 3 gelar US Open + 5 gelar Wimbledon, sudah cukup menggambarkan betapa berbahayanya pemain ini bila sudah mulai mengayunkan raketnya.

Asal tahu saja, tiap tahun ATP menyelenggarakan 4 turnamen Grand Slam yang mewakili 4 jenis lapangan tennis. Turnamen Grand Slam pembuka tahun adalah turnamen Australia Open, yang mewakili lapangan tenis jenis lapangan keras (Hard Court). Kondisi lapangan yang keras seperti ini mengharuskan permainan dilakukan dalam tempo yang cepat. Setelah itu ATP menyelenggarakan turnamen French Open, yang mewakili lapangan tanah liat (Clay Court). Kondisi lapangan jenis ini justru membuat pergerakan bola menjadi lambat, sehingga agak menyulitkan bagi orang-orang yang tidak terbiasa bermain di lapangan jenis ini. Federer, bintang kita kali ini, ternyata termasuk orang yang belum pernah sekalipun memenangi turnamen French Open. Turnamen selanjutnya yang digelar ATP adalah Wimbledon. Turnamen ini berlangsung di atas lapangan berumput (Grass Court). Kebalikannya dengan French Open, di turnamen ini Federer adalah salah satu pemain yang sangat disegani. Gelarnya tahun ini, yang baru saja direngkuh kemarin, merupakan gelarnya yang kelima secara berturut-turut, menjadikannya satu dari dua pemain dalam 100 tahun terakhir yang mampu melakuan hal tersebut setelah legenda tenis dunia, Bjorn Borg (Swedia), yang menggapainya dalam kurun waktu 1976-1980. Turnamen Grand Slam terakhir yang diadakan setiap tahunnya adalah turnamen US Open. Sama halnya seperti Turnamen Australia Open, turnamen ini juga dilangsungkan di atas lapangan keras (Hard Court).

Selanjutnya, mari kita sedikit mengulas pertandingan ketat yang berlangsung tadi malam. Pertandingan yang berlangsung marathon selama 3 jam dan 45 menit, berakhir dengan kemenangan Federer, 7-6 (7), 4-6, 7-6 (3), 2-6, 6-2. Dari total poin yang dikumpulkan kedua pemain (Federer = 26, Nadal = 26), dapat terlihat betapa ketatnya pertandingan tersebut. Pada pertandingan tersebut tercatat Federer membukukan 24 kali aces (servis yang tidak mampu dikembalikan lawan) dibandingkan dengan Nadal yang hanya mampu membukukan 1 kali ace. Namun, di lain sisi, Nadal dengan permainannya yang konstan menyerang dari baseline (Garis horisontal pembatas lapangan), senantiasa merepotkan Federer dengan bola-bola silangnya yang menusuk mendatar ke setiap sudut lapangan, membuat sang petenis no.1 ini terpaksa harus sedikit konsentrasi agar pengembalian bolanya bisa akurat dan tidak menyangkut di net. Terbukti, kemenangan Federer di set pertama dan ketiga harus didapatkan dengan susah payah, melalui tie-break 7-6 dan 7-6. Kemenangan Nadal di set kedua dan keempat pun cukup mudah didapat dari pola menyerang seperti itu. Bahkan di set keempat, Nadal sempat memimpin jauh hingga 4-0, sebelum akhirnya menutup set itu dengan skor 6-2. Namun, bukan Federer namanya kalo tidak mampu bangkit dalam kondisi seperti itu. Pada set penentuan, Federer berhasil memperbaiki penampilannya, dan bahkan mampu membuat repot Nadal, sang Matador dari Spanyol ini, dengan kombinasi pukulan forehand lurus akurat mendekati garis permainan lawan. Pertandingan kali ini memang cukup pantas ditonton untuk melihat sampai sejauh mana Federer mampu menyamai legenda tenis Bjorn Borg memenangi Turnamen Wimbledon selama 5 kali berturut-turut. Pertandingan yang luar biasa.

“Dia adalah seorang ’seniman’ dalam lapangan jenis ini. Dia bisa bertahan di belakang, namun juga bisa menyerang maju hingga mendekati net. Sama sekali tidak ada kelemahannya. Saya percaya, bila dia tetap mempertahankan pola permainan seperti ini, sambil menjaga performanya dari kondisi cedera, dia akan menjadi pemain terbesar yang pernah bermain dalam lapangan seperti ini.”, begitulah komentar Bjorn Borg, sang legenda tenis itu, saat menyaksikan juniornya telah berhasil menyamai rekornya sendiri.

Sekedar informasi, dengan 11 gelar Grand Slam ditangannya, Roger Federer hanya berada di urutan ketiga dari 2 orang lainnya yang menjadi peraih gelar Grand Slam terbanyak sepanjang sejarah. Urutan kedua peraih gelar Grand Slam terbanyak adalah Roy Emerson (Australia), yang memenangi 12 gelar Grand Slam. Sedangkan urutan pertama peraih gelar Grand Slam terbanyak adalah legenda Amerika Serikat, Pete Sampras, yang telah memenangi 14 gelar Grand Slam (termasuk 7 gelar Wimbledon) dalam kurun waktu 12 tahun sejak 1990-2002.

So, akankah Federer berhasil melampaui pencapaian para seniornya tersebut.? Banyak pengamat yang cukup optimis bahwa Federer pasti akan dengan mudah melewati “batas psikologis” 15 gelar Grand Slam. Dengan kenyataan bahwa umur Federer masihlah dibilang cukup muda, yaitu 25 tahun, angka 15 bukanlah sesuatu yang mustahil baginya. Apalagi, dengan adanya motivasi yang sangat kuat dalam dirinya untuk memenangi satu-satunya gelar Grand Slam yang belum pernah direngkuhnya, yaitu gelar French Open.

Kita lihat saja nanti..

Juli 8, 2007 Ditulis oleh Hans Victor Sitepu | Sports | | No Comments Yet